PENGOLAHAN NILAI (Skala, Konversi, Rangking)


Pendahuluan

  1. Pengolahan  Nilai

Proses penilaian adalah suatu prroses membandingkan skor yang diperoleh tiap siswa dengan acuan yang dipakai penilaian aturan patokan atau penilaian aturan normal  (PAN atau PAP), yang hasilnya berbentuk nilai dengan skala 0 – 10 atau A – E. dalam proses tersebut dapat dilihat bahwa penskoran atau scoring adalah pemberian angka-angka terhadap prestasi seseorang sesudah melaksanakan suatu tugas tertentu. Setelah selesai pengukuran yang salah satu alatnya biasa disebut tes, barulah dilakukan perbandingan hasil pengukuran yang berbentuk biji/ skor dengan acuan yang dipakai yang dihasilkan nilai tersebut kita kenal dengan pemberian nilai atau granding.

Dalam suatu tes dengan banyak soal 150, dan dengan ketentuan satu jawaban benar = 1 dan satu jawaban salah= 0, maka bila si Ani hanya dapat menjawab secara benar sebanyak 75, dia akan memperoleh skor 75. Skor setinggi 75 ini baru memiliki makna bila dibandingkan dengan suatu acuan.

Dalam pelaksanaan sehari-hari scoring dan granding disatukan atau tidak mengenal pemisahan ; pemberian biji/skor sekaligus berarti pemberian nilai. Sebagai hasilnya ialah bahwa penilaian tersebut tidak comparable dan penafsiran terhadap nilai yang diberikan dapat berbeda-beda. Untuk dapat melakukan evaluasi yang lebih memadai maka kedua kegiatan tersebut harus dipisahkan artinya; granding baru dapat dilaksanakan setelah skoring selesai, sehingga nilai tiap siswa dapat dibandingkan, penafsiran terhadap nilai sama, sifat terbuka dapat terpenuhi, obyektivitas lebih terjamin.

 

Pembahasan

  1. Skala
  2. Definisi Skala

Skala adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, minat, perhatian, yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai dengan kriteria yang ditentukan.

  1. Beberapa Skala Penilaian

a)      Skala Bebas

Ani, seorang pelajar di suatu SMA, pada suatu hari berlari-lari kegirangan setelah menerima kembali kertas ulangan dari bapa Guru Matematika. Diamatinya sekali lagi angka yang tertera di kertas itu tertulis angka 10, yaitu angka yang diperoleh ani dengan ulangan.

Pada waktu ulangan memang ani merasa ragu-ragu mengerjakannya. Rumus yang digunakan sedikit ingat sedikit lupa. Dan ketika seluruh rumus hamper teringat, waktu yang disediakan telah habis. Seberapa selesai soal itu dikerjakan kertas ulangan harus dikumpulkan.

Setelah tiba di luar kelas, Ani berdiskusi dengan kawan-kawannya. Ternyata cara mengerjakan dan pendapatannya tidak sama dengan yang lain. Tetapi mereka juga tidak vakin mana yang betul. Oleh karena itu ketika kertas ulangan dikembalikan dan ia mendapat 10, ia kegirangan. Ditunjukkannya kertas itu kepada kawan-kawannya. Baru sampai bertemu dengan 4 kawannya, wajahnya sudah menjadi malu tersipu-sipu. Apa sebab?

Rupanya ia menyadari kebodohan kebodohannya karena setelah melihat angka yang diperoleh keempat orang kawannya, terntaya kepunyaan Anil ah yang yang paling yang paling sedikit. Ada kawannya yang mendapat 15,20, bahkan ada yang 25. Dan kata guru, pekerjaan Tika yang mendapat angka 25 itulah yang betul.

Dari ganbaran ini Nampak bahwa dalam pikiran Ani, terpancang suatu pengertian bahwa angka 10 adalah tertinggi yang mungkin dicapai. Ini memang lazim. Mungkin bukan hanya Ani yang berpikiran demikian. Padahal pada waktu ulangan matematika ini, guru nmemberikan angka paling tinggi 25 kepada mereka yang dapat mengerjakan seluruh soal dengan betul. Cara pemberian angka seperti ini tidak salah. Hanya sayangnya, guru tersebut barangkali perlu menerangkan kepada para siswanya, cara mana yang digunakan untuk memberikan angka atau skor. Ia baru pindah dari sekolah lain. Ia sudah biasa menggunakan skala bebas, yaitu skala yang tidak tetap. Ada kalanya skor tertinggi 20, lain kali lagi 50. Ini semua tergantung dari banyak dan bentuk soal. Jadi angka tertinggi dari skala yang digunakn tidak selalu sama.

b)      Skala 1-10

Apa sebab Ani dan kawan-kawannya berpikiran bahwa angka 10 adalah angka tertinggi untuk nilai? Hal ini disebabkan karena pada umumnya guru-guru di Indonesia mempunyai kebiasaan menggunakan skala 1-10 untuk laporan prestasi belajar siswa dalam rapor. Ada kalanya juga digunakan skala 1-10, sehingga memungkinkan bagi guru untuk penilaian yang lebih halus. Dalam skala 1-10, guru jarang memberikan angka pecahan, misalnya 5,5. Angka 5,5 tersebut kemudian dibulatkan menjadi 6. Dengan demikian maka rentangan angka 5,5 sampai dengan 6,4 (selisih hamper 1) akan keluar di rapor dalam satu wajah, yaitu angka 6.

c)      Skala 1-100

Memang diseyogyakan bahwa angka itu merupakan bilangan bulat. Dengan menggunakan skala 1-10 maka bilangan bulat yang ada masih menunjukkan penilaian yang agak kasar. Ada sebenarnya hasil prestasi yang berada diantara kedua angka bulat itu. Untuk itulah maka dengan menggunakan skala 1-100, dimungkinkan melakukan penilaian yang lebih halus karena terdapat 100 bilangan bulat. Nilai 5,5 dan 6,4 dalam skala 1-10 yang biasanya dibulatkan menjadi 6, dalam akala 1-100 ini boleh dituliskan dengan 55 dan 64.

d)     Skala Huruf

Selaian menggunakan angka, pemberian nilai dapat dilakukan dengan huruf A,B,C,D, dan E (ada juga yang menggunakan sampai dengan G tetapi pada umumnya 5 huruf lain).  Sebenarnya sebutan “skala” diatas ini ada yang mempersoalkan. Jarak antara huruf A dan B tidak dapat digambarkan sama dengan jarak antara B dan C, atau antara C dan D.

Dalam menggunakan angka dapat dibuktikan dengan gratis bilangan  bahwa jarak antara 1 dan 2 sama dengan jarak antara 2 dan 3. Demikian pula jarak antara 3 dan 4, serta antara 4 dan 5.

Akan tetapi justru alasan inilah lalu timbul pikiran untuk menggunakan huruf sebagai alat penilaian. Untuk menggambarkan kelemahan dalam menggunkan angka adalah bahwa dengan angka dapat ditafsirkan sebagai nilai perbandingan. Siswa A yang memperoleh angka 8 dalam sejarah tidak berarti memiliki kecakapan sebanyak dua kali lipat kecakapan siswa B yang memperoleh angka 4 dalam rapor. Demikian pula siswa A tersebut tidaklah mempunyai 8/9 kali kecakapan C yang mendapat nilai 9. Jadi sebenarnya menggunakan angka hanya merupakan simbul yang menunjukkan urutan tingkatan. Siswa A yang memperoleh angka 8 yang memiliki prestasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa B  yang memperoleh angka 4, tetapi kecakapannya itu lebih rendah jika dibandingkan dengan kecakapan C. jadi dalam tingkatan prestasi sejarah urutan adalah C,A lalu B.

  1. Konversi

Definisi Konversi

Konversi adalah  adalah kegiatan mengubah atau mengolah skor mentah menjadi huruf. Jika tidak ada kegiatan konversi ini, maka nilai tidak bisa dinterpretasikan. Konversi nilai dapat dilakukan dengan menggunakan Meaan dan SD atau dikenal juga dengan batas lulus Mean (Mean = SD). Cara yang kedua adalah dengan Mean Ideal dan SD Ideal atau Remmers.

Untuk cara pertama, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari nilai Mean dan SD, kemudian menentukan besarnya SUD (Skala Unit Deviasi), dan langkah terakhir adalah menentukan batas atas dan batas bawah. Untuk menentukan batas atas dan batas bawah tersebut, rumusnya adalah sebagai berikut:

Batas bawah C = M – 0,5 SUD

Batas bawah D = M – 1,5 SUD

Batas atas C = M + 0,5 SUD

Batas atas B = M + 1,5 SUD

Skala sikap yang diberi bobot nilai 0 – 4 atau 1 – 5 sesuai dengan alternatif respon pada dasarnya merupakan skala yang bernilai Ordinal atau pemeringkatan ,sebab responden diminta merespon/menjawab sesuai dengan kecenderungan sikapnya untuk kemudian diberi kode/nilai peringkat oleh peneliti, namun demikian terdapat para Pakar yang menganggapnya sebagai Skala Interval sehingga memungkinkan pengolahan datanya dengan analisis Statistik Parametrik. Terlepas dari kontroversi tersebut, mereka yang berpendapat bahwa skala sikap bernilai ordinal mengajukan suatu cara untuk mengkonversi nilai skala tersebut menjadi bernilai Interval dengan menempatkan masing-masing nilai skala dalam kelompoknya pada suatu distribusi norma, sehingga jarak nilai menjadi sama. Dengan cara ini penentuan nilai skala dilakukan dengan memberi bobot dalam satuan deviasi normal bagi setiap kategori respon pada suatu kontinum psikologis.

Tentu pernah melaksanakan penilaian hasil belajar. Dalam KTSP ada berbagai macam teknik penilaian antara tes, observasi, penugasan, interventori, portofolio, jurnal, penilaian diri, penilaian antar teman dan lain-lain. Jadi penilaian itu bukan melalui siswa menjawab soal saja, tapi banyak jenis bentuk lain dari penilaian hasil belajar peserta didik. Kombinasi penggunaan berbagai teknik penilaian di atas akan memberikan informasi yang lebih akurat tentang kemajuan belajar peserta didik.

Salah satu teknik penilaian yang sering (bahkan selalu ini saja) adalah dalam bentuk tes. Tes adalah pemberian sejumlah pertanyaan yang jawabannya dapat benar atau salah. Tes dapat berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja. Tes tertulis adalah tes yang menuntut peserta tes memberi jawaban secara tertulis berupa pilihan dan/atau isian. Tes yang jawabannya berupa pilihan meliputi pilihan ganda, benar-salah, dan menjodohkan. Sedangkan tes yang jawabannya berupa isian dapat berbentuk isian singkat dan/atau uraian. Tes lisan adalah tes yang dilaksanakan melalui komunikasi langsung (tatap muka) antara peserta didik dengan pendidik. Pertanyaan dan jawaban diberikan secara lisan. Tes praktik (kinerja) adalah tes yang meminta peserta didik melakukan perbuatan/mendemonstasikan/ menampilkan keterampilan.

Dalam rancangan penilaian, tes dilakukan secara berkesinambungan melalui berbagai macam ulangan dan ujian. Ulangan meliputi ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Sedangkan ujian terdiri atas ujian nasional dan ujian  sekolah. Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk melakukan perbaikan pembelajaran, memantau kemajuan dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan. Dari Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Setelah melaksakana ulangan atau ujian pernah tidak menemukan nilai peserta didik kita sangat rendah atau dibawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal. Jika dalam bentuk ulangan harian dan ulangan tengah semester kita bisa melaksakan program perbaikan yg disebut dengan remedial, tapi jika ulangan semester atau ujian sekolah kapan lagi melaksanakan program perbaikannya. Salah satu cara mengatasinya bisa dengan sistem konversi nilai.

Berikut caranya :

Misalkan ada 50 soal pilihan ganda, kita koreksi dulu hasil ulangan siswa hingga mendapatkan skor. Skor yang di dapat adalah jumlah soal yang dijawab benar oleh siswa  dari 50 soal yang diberikan. Lalu kita mendapatkan skor tertinggi dan skor terendah, misalnya

Skor tertinggi = 30

Skor terendah = 10

Lalu kita menentukan berapa nilai tertinggi dan terendah yang inginkan,misalnya

Skor tertinggi = 30  dapat nilai 8

Skor terendah = 10 dapat nilai 6

Rumus yang kita pakai adalah  Y = ax + b

Terlebih dahulu kita menentukan nilai a, dengan cara :

Niali Tertinggi 8 = 30a + b        (30 adalah skor tertinggi)

Nilai Terendah 6 = 10a +  b  – (10 adalah skor terendah)

2 = 20a

a = 2/20

a = 1/10 atau 0,1

sekarang kita menetukan b, dengan cara :

8 = 1/10 x 30 + b   ( 1/10 atau 0,1 adalah a sedang 30 adalah skor tertinggi)

8 = 3 + b

b = 8 – 3

b = 5

Sekarang kita tinggal memasukkan kedalam rumus Y= ax + b

sekarang kita buktikan untuk menentukan nilai konversi

Y = 0,1 x 30 + 5

Y = 3 + 5

Y= 8

Artinya siswa dengan skor 30 mendapat nilai konversi 8, bagaimana dengan yang terendah berikut perhitungannya

Y= 0,1 x 10 + 5

Y = 1 + 5

Y= 6.

Bagaimana dengan yang lain,misalkan skornya 20,denganrumus Y = ax + b

Y = 0,1 x 20 + 5

Y = 2 + 5

Y = 7

  1. Rangking

Rangking adalah peringkat

Metode ini merupakan pendekatan penskalaan komparatif yaitu dengan menanyakan kepada responden rangking (kesatu, kedua dan seterusnya) teknik ini relative lebih cepat dan lebih mudah dipahami responden.

rapor sekarang sudah tidak ada lagi , sebagai gantinya ada LHBS ( Laporan Hasil Belajar Siswa ) dan tanpa ranking  . Ternyata banyak sekali istilah dalam pendidikan yang tidak mereka kenal semisal SSN, RSBI , UASBN , UN . KBK. KTSP dan yang paling heboh di bahas dipertemuan PKK ibu ibu di RW ku kapan hari adalah LHBS ( kebetulan waktu itu bersamaan penerimaan Hasil Belajar dan Kenaikan kelas )

Apakah perbedaan LHBS dan Rapor ?

LHBS mulai dikenalkan  di Indonesia  tahun 2004 pada saat diberlakukannya kurikulum ujicoba KBK ( Kurikulum Berbasis Kompetensi ) dan pada saat ini Kurikulum jadi (maksudnya bukan uji coba lagi ) di beri nama KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ). Esensial dari kedua kurikulum ini adalah target pencapaian hasil belajar siswa bukan hanya hapal dan paham materi tetapi kompetensi siswa . Association K.U. Leuven mendefinisikan kompetensi adalah peingintegrasian dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memungkinkan untuk melaksanakan satu cara efektif.

Jadi sejak tahun 2004 target anak berhasil dalam pembelajaran di kelas tidak hanya dari aspek pengetahuan tetapi juga pada aspek sikap dan ketrampilan yang dimilikinya. Dengan demikian nilai yang ada dalam LHBS mencakup 3 aspek itu sedang pada Rapor hanya dari pencapaian aspek pengetahuan (artinya tuntutannya siswa bisa hapal dan paham materi apa yg dipelajari )

Kemudian dari target penilaian akan berbeeda pula , acuan penilaian yang ada di rapor menggunakan PAN (penilaian Acuan Norma ) artinya nilai siswa dibandingkan dengan nilai siswa yang lain dalam kelompoknya . Maka pada Rapor dilengkapi Rangking, tujuannya untuk mengtahui posisi siswa dalam kelompoknya

Sedang Pada LHBS acuan penilaian adalah PAK (penilaian acuan Kriteria), artinya siswa dinilai sesuai kemampuan / kompetensi standar siswa yang ada di kelas itu . Untuk itulah setiap guru perlu menentukan KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal ) . Maka di LHBS ada kolom KKM pada setiap mata pelajaran . Sampai pada penjelasan ini ibu2 mulai ribut lagi karena mereka membandingkan KKM dengan KKN

 

 

 

 

 

Penutup

Kesimpulan bahwa proses penilaian adalah suatu prroses membandingkan skor yang diperoleh tiap siswa dengan acuan yang dipakai penilaian aturan patokan atau penilaian aturan norma (PAN atau PAP), yang hasilnya berbentuk nilai dengan skala 0 – 10 atau A – E. maka seorang  guru bisa mengukur tingkat perbedaan kecerdasan siswa dalam proses pembelajaran  yaitu guru mengukur dengan skala,konversi,dan rangking sehingga peserta didik/siswa bisa mencapai suatu tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran.

Daftar Pustaka

Arikunto, S. 1993. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

Slamet, Drs. 1988. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, cetakan ketiga. Bandung: PT Remaja RosdaKarya. 1991.

Web site. http://atashi-no-seikatsu.blogspot.com/2008/06/skoring-and-konversi-nilai.html.Thursday, June 19, 2008.

http://id.wordpress.com/tag/penilaian-ktsp

http://www.kompas.com/aboutus.php

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,356 other followers

%d bloggers like this: