TUJUAN DAN TAKSONOMI HASIL BELAJAR


A.    PENDAHULUAN

Beberapa tahun, pendidikan belum menemukan kemana arahnya pendidikan itu sendiri. Kebanyakan pendidikan hanya mengarah pada satu aspek yaitu aspek kognitif. Peserta didik hanya diberikan materi yang tertuju pada aspek kognitif saja, sehingga tidak terwujudnya tujuan pendidikan yaitu perubahan pada tingkah laku ke arah yang lebih baik.

Dalam periode 20 tahun terakhir ini, Bloom dan kawan-kawan menemukan Teori Taksonomi dalam pendidikan. Yang dimaksud adalah  berhasilnya suatu pendidikan terwujud dalam 3 tingkah laku yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Aspek taksonomi dalam prakteknya memang sulit dilaksanakan secara nyata dalam dunia pendidikan, apalagi di Indonesia. Namun alangkah baiknya kita sebagai calon guru mempelajari teori Taksonomi dan penerapannya.

Dalam makalah kami ini, ada beberapa rumusan masalah yang akan kami bahas dan semoga bermanfaat bagi dunia pendidikan. Diantara rumusan masalahnya yaitu:

  1. Apa pengertian Taksonomi?
  2. Siapakah tokoh-tokoh dalam ragam Taksonomi?
  3. Bagaimana penerapan konsep Taksonomi

B.     MAKNA TAKSONOMI (TAXONOMY)

Sebelum mengetahui makna Taksonomi, terlebih dahulu kita harus mengetahui makna dari Tujuan Instruksional. Tujuan Instruksional adalah tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai akibat dari hasil pengajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku (behavior) yang dapat diamati dan diukur. Ada 2 macam tujuan instruksional yaitu:

  • Tujuan Instruksional Umum (TIU)
  • Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Kepentingan hubungan antara kegiatan belajar-mengajar dengan tujuan, oleh seorang ahli bernama Scriven (1967) dikemukakan bahwa harus ada hubungan erat antara:

  • Tujuan kurikulum dengan bahan pelajaran
  • Bahan pelajaran dengan alat-alat evaluasi
  • Tujuan kurikulum dengan alat-alat evaluasi

Tujuan kurikulum yang dimaksud adalah tujuan yang dapat diukur. Ebel (1963) berpendapat bahwa jika hasil pendidikan merupakan sesuatu yang penting tetapi tidak dapat diukur maka tujuan itu harus diubah. Jika tujuan telah dirumuskan secara operasional maka hasilnya akan dapat diukur. Suatu tanda bahwa seseorang telah mencapai tujuannya, akan terlihat pada perubahan tingkah lakunya.

Beberapa ahli telah mencoba memberikan cara bagaimana menyebut ketiga tingkatan tujuan ini, yang akhirnya oleh Viviane De Landsheere disimpulkan bahwa ada 3 tingkat tujuan (termasuk taksonomi), yaitu:

1. Tujuan akhir atau tujuan umum pendidikan

2. Taksonomi

3. Tujuan yang operasional.

Tujuan Instruksional Khusus atau yang sering disebut dengan Taksonomi adalah tujuan pendidikan yang didasarkan pada tingkah laku. Ada 3 macam tingkah laku yang dikenal umum yaitu:

ü  Kognitif

ü  Afektif

ü  Psikomotorik

  1. C.    RAGAM TAKSONOMI
  2. 1.      Guilford

Tokoh ini telah menciptakan pola yang menggambarkan struktur intelek dalam bentuk kubus. Guilford juga mengatakan bahwa untuk melatih kemampuan intelektual tertentu, maka dibutuhkan latihan tertentu pula.

2.      Gagne dan Merrill

Di dalam bukunya The Conditions of Learning (1965), Gagne menyebutkan adanya 8 buah kategori yang oleh Merrill (1971) ditambah 2 buah kategori lagi. Delapan hierarki tingkah laku menurut Gagne adalah:

  • Signal learning
  • Stimulus-response learning
  • Chaining
  • Verbal Association
  • Discrimination learning
  • Concept learning
  • Rule learning
  • Problem solving

3.      Anita Harrow

Taksonomi untuk ranah psikomotorik antara lain dikemukakan oleh Anita Harrow (1972). Menurut Harrow kebanyakan para guru tidak dapat menuntut pencapaian 100 dari tujuan yang dirumuskan kecuali hanya berharap bahwa ketrampilan yang dicapai muridnya akan sangat mendukung mempelajari keterampilan lanjutan atau gerakan-gerakan yang lebih kompleks sifatnya. Garis besar taksonomi yang dikemukakan oleh Harrow adalah sebagai berikut:

a.      Gerakan reflex, yaitu respons gerakan yang tidak disadari yang dimiliki sejak lahir.

b.      Dasar gerakan-gerakan, yaitu gerakan-gerakan yang menuntun kepada keterampilan yang sifatnya kompleks.

c.       Perceptual abilities, yaitu kombinasi dari kemampuan kognitif dan gerakan.

d.      Physical abilities, yaitu kemampuan yang diperlukan untuk mengembangkan gerakan-gerakan keterampilan tingkat tinggi.

e.       Skilled movements, yaitu gerakan-gerakan yang memerlukan belajar, misalnya keterampilan dalam olahraga, menari dan rekreasi.

f.       Nondiscoursive communication, yaitu kemampuan untuk berkomunikasi dengan menggunakan gerakan, misalnya ekspresi wajar (mimic), postur, dsb.

4.      Blooms

Blooms dan Krathwohl telah memberikan banyak inspirasi kepada banyak orang yang melahirkan taksonomi lain. Prinsip-prinsip dasar yang digunakan oleh 2 orang ini adalah:

a.      Prinsip Metodologis

Perbedaan-perbedaan yang besar telah merefleksi kepada cara-cara guru dalam mengajar.

b.      Prinsip Psikologis

Taksonomi hendaknya konsisten dengan fenomena kejiwaan yang ada sekarang.

c.       Prinsip Logis

Taksonomi hendaknya dikembangkan secara logis dan konsisten.

d.      Prinsip Tujuan

Tingkatan-tingkatan tujuan tidak selaras dengan tingkatan-tingkatan nilai-nilai. Tiap-tiap jenis tujuan pendidikan hendaknya menggambarkan corak yang netral.

Atas dasar prinsip ini maka taksonomi disusun menjadi suatu tingkatan yang menunjukkan tingkat kesulitan. Sebagai contoh, mengingat fakta lebih mudah dari pada menarik kesimpulan. Atau menghafal lebih mudah dari pada memberikan pertimbangan. Tingkatan kesulitan ini juga merefleksi kepada kesulitan dalam proses belajar dan mengajar.

Secara garis besar, Bloom bersama kawan-kawan merumuskan tujuan-tujuan pendidikan pada 3 tingkatan:

1)      Kategori tingkah laku yang masih verbal.

2)      Perluasan kategori menjadi sederetan tujuan.

3)      Tingkah laku konkret yang terdiri dari tugas-tugas dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai ujian dan butir-butir soal.

Ada 3 ranah atau domain besar yang terletak pada tingkatan ke-2 yang selanjutnya disebut taksonomi yaitu:

a)      Ranah Kognitif

  • Mengenal (recognition)

Dalam pengenalan siswa diminta untuk memilih satu dari dua atau lebih jawaban.

Mengungkap/mengingat kembali (recall)

Siswa diminta untuk mengingat kembali satu atau lebih fakta-fakta yang sederhana.

  • Pemahaman (comprehension)

Siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana di antara fakta-fakta atau konsep.

  • Penerapan atau aplikasi (application)

      Siswa dituntut memiliki kemampuan untuk menyeleksi atau memilih suatu abstrasi tertentu (konsep, hukum, dalil, aturan, gagasan, cara) secara tepat untuk diterapkan dalam suatu situasi baru dan menerapkannya secara benar.

  • Analisis (analysis)

      Siswa diminta untuk menganalisis suatu hubungan atau situasi yang kompleks atas konsep-konsep dasar.

  • Sintesis (synthesis)

Dengan soal sintesis, siswa diminta untuk melakukan generalisasi.

  • Evaluasi (evaluation)

Siswa mampu menerapkan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki untuk menilai sesuatu kasus yang diajukan oleh penyusun soal.

Untuk ranah kognitif, Bloom menemukan adanya tingkatan-tingkatan ranah, tersusun dalam urutan meningkat (hierarki) yang sifatnya linear yaitu:

Evaluasi

Sintesis

Analisis

Aplikasi

Pemahaman

Ingatan

Struktur hipotesis oleh Bloom

 

Beberapa aspek kejiwaan yang telah disebutkan, sebagian hanya cocok diterapkan di Sekolah Dasar (Ingatan, Pemahaman, dan Aplikasi), sedangkan analisis dan sistesis baru dapat dilatihkan di SLTP, SMU, dan Perguruan Tinggi secara bertahap. Dengan urutan yang ada, memang menunjukkan usaha yang makin ke bawah makin berat. Sebagai contoh, untuk melakukan pemahaman, siswa harus terlebih dahulu dapat mengingat atau mengenal kembali. Dan untuk pemahaman, memang dibutuhkan unsur mengenal dan mengingat kembali.

b)           Ranah Afektif

ü  Pandangan atau pendapat (opinion)

Pertanyaan yang disusun menghendaki respons yang melibatkan ekspresi, perasaan atau pendapat pribadi siswa terhadap hal-hal yang relative sederhana tetapi bukan fakta.

ü  Sikap atau nilai (attitude, value)

Siswa ditanya mengenai responsnya yang melibatkan sikap atau nilai telah mendalam disanubarinya, dan guru meminta dia untuk mempertahankan pendapatnya.

c)            Ranah Psikomotor

Ranah psikomotor berhubungan erat dengan kerja otot sehingga menyebabkan geraknya tubuh atau bagian-bagiannya. Yang termasuk klasifikasi gerak disini mulai dari gerak yang paling sederhana yaitu melipat kertas sampai merakit suku cadang televisi serta computer. Secara mendasar perlu dibedakan antara dua hal yaitu keterampilan (skill) dan kemampuan (abilities).

 

  1. PENERAPAN KONSEP TAKSONOMI

Rumusan Tujuan Instruksional Khusus (TIK) atau Taksonomi, memuat 3 komponen yaitu:

ü  Tingkah laku akhir (terminal behavior)

Tingkah laku akhir adalah tingkah laku yang diharapkan setelah seseorang mengalami proses belajar. Di sini tingkah laku ini harus menampakan diri dalam suatu perbuatan yang dapat diamati dan diukur.

ü  Kondisi demonstrasi

Kondisi demonstrasi adalah komponen TIK yang menyatakan suatu kondisi atau situasi yang dikenakan kepada siswa pada saat ia mendemonstrasikan tingkah laku akhir, misalnya:

  • Dengan penulisan yang betul.
  • Urut dari yang paling tinggi.
  • Dengan bahasanya sendiri.

ü  Standar keberhasilan

Standar keberhasilan adalah komponen TIK yang menunjukkan seberapa jauh tingkat keberhasilan yang dituntut oleh penilai bagi tingkah laku pelajar pada situasi akhir. Namun yang umum dikerjakan sampai saat ini hanya sampai tingkah laku akhir saja

Dalam pedoman pelaksanaan kurikulum dijelaskan bahwa dalam kegiatan belajar-mengajar guru diharuskan memperhatikan pula keterampilan siswa dalam hal memperoleh hasil, yakni memperoleh keterampilan tentang prosesnya. Pendekatan ini disebut dengan istilah Pendekatan Keterampilan Proses (PKP). Keterampilan-keterampilan yang dimaksud meliputi keterampilan dalam hal:

  • Mengamati
  • Menginterpretasikan hasil pengamatan
  • Meramalkan
  • Menerapkan konsep
  • Merencanakan penelitian
  • Melaksanakan penelitian
  • Mengkomunikasikan hasil penemuan

Sesuai dengan tuntutan tersebut maka guru dalam merumuskan Tujuan Instruksional Khusus harus mengandung apa yang dilakukan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, bagaimana menunjukkan kemampuan atau hasilnya dan perolehannya.

Penetapan tujuan, yang merupakan suatu keharusan dalam perencanaan pengajaran, perlu dirumuskan dengan jelas dan tegas sehingga tidak membuka peluang untuk penafsiran lain. Penetapan tujuan pengajaran ibarat penetapan tujuan suatu perjalanan. Jalan yang optimal ke tujuan tidak dapat dipertimbangkan apabila tujuan itu sendiri belum diketahui. Setelah ada tujuan, baru dipikirkan jalan optimal (yaitu yang efektif dan efisien) ke tujuan tersebut. Mungkin saja ada jalan yang lebih singkat namun lebih sering pula macetnya. Barangkali perlu dipilih jalan yang agak panjang tetapi tidak/kurang macet untuk mempermudah dan mempercepat pencapaian tujuan tersebut secara lebih efektif.

E.     DAFTAR PUSTAKA

ü  Daryanto. 1999. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

ü  Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

About these ads

One Response to “TUJUAN DAN TAKSONOMI HASIL BELAJAR”

  1. tujuan dan taksonomi hasil belajar | healty is everityng Says:

    […] http://topiknugroho.wordpress.com/2011/05/03/tujuan-dan-taksonomi-hasil-belajar/ Diakses 08 Oktober 2012 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,448 other followers

%d bloggers like this: