ANALISIS BUTIR SOAL


  1. A.     PENDAHULUAN

Evaluasi pembelajaran merupakan salah satu unsure yang penting dalam proses pembelajaran. Melihat realita yang ada saat ini system evaluasi pendidikan di Indonesia masih mengedapankan aspek kognitif siswa saja, contohnya adalah dengan diselenggarakan system UAN dan ujian akhir sekolah. Akibatnya, dalam menyusun soal-soal tersebut seorang guru pada umumnya sulit menentukan unsure-unsur soal yang memenuhi standar kompetensi soal yang baik. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh ketidakpahaman dan ketidakmampuan seorang guru dalam membuat soal sesuai dengan kompetensi soal yang baik.

Kasus-kasus dilapangan menunjukkan kebanyakan seorang guru dalam membuat soal kadang terlalu sulit dan terkadang terlalu mudah. Kedua hal tersebut berdampak kurang baik bagi siswa. Jika seorang guru dalam menyusun soal terlalu mudah, akan mengakibatkan siswa kurang serius dalam belajar dan dapat dikategorikan menyepelekan. Sebaliknya jika seorang guru membuat soal yang terlalu sulit dampak negatifnya adalah siswa menjadi putus asa dan tidak semangat dalam ujian dan berujung meningkatnya hasil ujian yang tidak jujur dikarenakan mencontek. Oleh karena itu seorang guru wajib mengetahui unsure-unsur yang baik dalam membuat soal.

Analisis soal antara lain bertujuan untuk mengadakan identifikasi soal-soal yang baik, kurang baik dan soal yang jelek. Dengan analisis soal dapat diperoleh informasi tentang kejelekan sebuah soal dan petunjuk untuk mengadakan perbaikan. Dan kapan sebuah soal dikatakan baik? Untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan ini, perlu diterangkan tiga masalah yang berhubungan dengan analisis soal, yaitu : taraf kesukaran, daya pembeda dan pola jawaban soal.

  1. B.     RUMUSAN MASALAH

Untuk mengetahui apakah masing-masing item soal baik, perlu dilakukan analisis terhadap 3 hal, yaitu :

  1. Seberapa besar tingkat kesukaran pada butir item itu?
  2. Apakah butir item itu mampu membedakan kemampuan antara siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai?
  3. Apakah butir item tersebut menggunakan distraktor yang baik atau belum?
  4. C.     PEMBAHASAN
    1. 1.      Menentukan Tingkat Kesukaran Item

Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkauannya. Melihat realita yang ada, seorang siswa akan menjadi hafal akan kebiasaan guru-gurunya dalam hal pembuatan soal ini. Misalnya, guru A dalam memberikan ulangan soalnya mudah-mudah, sedangkan guru B kalau memberikan ulangan soalnya sukar-sukar. Dengan pengetahuannya tentang kebiasaan ini siswa akan belajar giat jika menghadapi ulangan dari guru B dan sebaliknya jika akan menghadapi ulangan dari guru A, tidak mau belajar giat bahkan mungkin tidak mau belajar sama sekali.

Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal disebut indeks kesukaran (difficulty index). Besarnya indeks kesukaran antara 0,00 sampai dengan 1,0. Indeks kesukaran ini menunjukkan taraf kesukaran soal. Soal dengan indeks kesukaran 0,0 menunjukkan bahwa soal itu terlalu sukar, sebaliknya indeks 1,0 menunjukkan bahwa soal itu terlalu mudah.

0,0 ———————————à 1,0

Sukar                                          Mudah

Di dalam istilah evaluasi, indeks kesukaran ini diberi simbul P (p besar), singkatan dari kata “Proporsi”. Dengan demikian maka soal dengan P = 0,70 lebih mudah jika dibandingkan dengan P = 0,20. Sebaliknya soal dengan P = 0,30 lebih sukar daripada soal dengan P = 0,80.

Melihat besarnya bilangan indeks ini maka lebih cocok jika bukan disebut sebagai indeks kesukaran tetapi indeks kemudahan atau indeks fasilitas, karena semakin mudah soal itu, semakin besar pula bilangan indeksnya. Akan tetapi telah disepakati bahwa semakin tinggi indeksnya menunjukkan soal yang semakin mudah, tetapi tetap disebut indeks kesukaran.

Rumus mencari P adalah :

P =       B

JS

Keterangan :

P  = Indeks Kesukaran

B  = Banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul

JS = Jumlah seluruh siswa peserta Tes.

  1. 2.      Menentukan Kemampuan Daya Pembeda

Daya pembeda soal adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks kesukaran, indeks diskriminasi (daya pembeda) ini berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Hanya bedanya, indeks kesukaran tidak mengenal negative (-), tetapi pada indeks diskriminasi ada tanda negative. Tanda negative pada indeks diskriminasi digunakan jika sesuatu soal terbalik menunjukkan kualitas testee. Yaitu anak pandai disebut bodoh dan anak bodoh disebut pandai.

 

Dengan ada tiga titik pada daya pembeda  yaitu:

-100                                   0,00                           +1,00

Daya pembeda          daya pembeda           daya pembeda tinggi

Negative                    rendah                       (positif)

Bagi sesuatu soal yang dapat dijawab benar oleh siswa pandai Maupun siswa bodoh, maka soal itu tidak baik karena tidak mempunyai daya pembeda. Demikian pula jika semua kelompok bawah menjawab betul, maka nilai kelompok bawah sama-sama menjawab benar atau sama-sama menjawab salah, maka soal tersebut mempunyai nilai D 0,00. Karena tidak mempunyai daya pembeda sama sekali.

  1. 3.    Pola Jawaban Soal

Yang dimaksud pola jawaban disini adalah distribusi testee dalam hal menentukan pilihan jawaban pada soal bentuk pilihan ganda. Pada jawaban soal diperoleh dengan menghitung bayaknya testee yang memilih pilihan jawaban a, b, c, atau d yang tidak memilih pilihan manapun (blangko). Dalam istilah evaluasi disebut omit, disingkat O.

Dari pola jawaban soal dapat ditentukan apakah pengecoh(distractor) berfungsi sebagai pengecoh  dengan baik atau tidak tidak. Pengecoh yang tidak dipilih sama sekali oleh testee berarti bahwa pengecoh itu jelek, terlalu menyolok menyesatkan. Sebaiknya sebuah dictator (pengecoh) dapat dikatakan berfungsi dengan baik apabila distaktor tersebut mempunya daya tarik yang besar bagi pengikut-pengikut tes yang kurang memahami konsep atau kurang menguasi bahan.

Dengan melihat pola jawaban soal, maka dapat diketahui:

1)      Taraf kesukaran soal

2)      Taraf pembeda soal

3)      Baik dan tidaknya distaktor

Sesuatu distaktor dapat diperlakukan dengan tiga cara yaitu:

a)    Diterima, karena sudah baik

b)   Ditolak, karena tidak baik

c)    Ditulis kembali, karena kurang baik

Kekurangannya mungkin hanya terletak pada rumusan kalimatnya sehingga hanya perlu ditulis kembali, dengan perubahan seperlunya.

Menulis soal adalah suatu kesukaran yang sulit sehingga, apabila masih dapat distaktor dapat dikatakan berfungsi baik jika paling sedikit dipilih oleh 5% pengikut tes.

  1. D.     KESIMPULAN

Tidak ada usaha guru yang lebih baik selain usaha untuk selalu meningkatkan mutu tes yang disusunnya. Namun hal ini dilaksanakan karena kecenderungan seseorang untuk beranggapan bahwa yang menjadi hasil karyanya adalah yang terbaik, atau setidak-tidaknya sudah cukup baik.

Guru yang sudah banyak berpengalaman, mengajar dan menyusun soal-soal tes, juga masih sukar menyadari bahwa tesnya belum sempurna. Oleh karena itu cara yang paling baik adalah secara jujur melihat hasil yang diperoleh oleh siswa. Ada 3 point yang perlu digaris bawahi antara lain :

  1. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak pula terlalu sulit. karena kalau soal yang kita buat terlalu mudah tidak akan merengsang siwa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Dan apabila soalnya terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena susah untuk dicapainya.
  2. Kemampuan sesuatu  soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah) dapat kita ketahui dengan mengetahui daya pembeda.
  3. Dari pola jawaban soal dapat ditentukan apakah penngecoh (distactor) berfungsi sebagi pengecoh dengan baik atau tidak.sebuah distactor dikatakan baik apabila distaktor tersebut mempunyai daya tarik yang besar bagi pengikut-pengikut tes yang kurang menguasai konsep atau kurang menguasai bahan.
  1. E.     DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi Drs. 1995. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Daryanto, Drs. 2001. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

Slameto, Drs. 2001. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Thoha, M. Chabib M.A, Drs. 1994. Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: