Apresiasi Pergelaran Macapat & Sarasehan Seni Budaya Dalam Dakwah Kultural Muhammadiyah


  1. Pendahuluan

Dalam mendukung dakwah kultural Muhammadiyah sekaligus menjalankan program  kerja Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pengurus Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (LSBO PWM DIY).  Menggelar pagelaran Macapat yang diadakan di gedung Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) yang dipandu  oleh H. Sustam Mulyadi, Wakil Ketua I LSBO PWM DIY. Dan dihadiri oleh banyak kalangan dari anggota PWM DIY, Anggota LSBO PWM DIY, Pengurus LSBO PDM se-DIY, Pimpinan Cabang Muhammadiyah se-DIY dan para pengagum seni macapat berusia tua maupun muda. Yang muda seperti para mahasiswa-mahasiswi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang sedang studi Apresiasi Seni Budaya.

  1. Pembahasan
  2. Pengertian

Macapat merupakan puisi tradisional Jawa Baru yang dilagukan yang diikat dengan konvensi tertentu. Adapun konvensi itu adanya guru gatra (jumlah larik tiap baris), guru wilangan (jumlah suku kata dalam larik), dan guru lagu (bunyi suku kata pada akhir larik). Puisi yang mesti dilagukan tersebut disebut tembang sehingga sering juga disebut tembang macapat.

Dalam beberapa teori sastra jawa terdapat nama-nama jenis tembang macapat, kadangdidapati bahwa jumlah metrumnya tidak sama. Perbedaan jumlah itu berkaitan dengan dimasukannya beberapa tembang tengahan dan tembang gede ke tembang macapat. Namun demikian nama metrum macapat sesuai dengan jenis tembangnya terdiri dari, Pucung, Mijil, durma, Kinanthi, Asmaradhana, Pangkur, Sinom, Gambuh, Balabak, Jurudemung, Wirangrong dan Girisa. Dalam tembang macapat terkandung tujuan berwujud pesan. I Made Purna mengungkapkan bahwa :

“Berbagai makna dan suasana yang tersirat dihantarkan oleh tembang macapat untuk menyampaikan pesan atau amanat yang terkandung. Kandungan pesan yang tersusun dalam bentuk ikatan kata yang hangat dan akrab tanpa mengabaikan kaidah atau patokan yang berlaku “ (Purna, 1997 : 8 ).

Sebagai suatu pesan, macapat mempunayi ciri dan makna sendiri-sendiri sesuai tujuan yang dimaksudkan. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap satu serat tembang macapat mempunyai tujuan dan makna tersendiri serta berbeda satu sama lainnya yang secara langsung membuat pesan yang berbeda-beda pula. Sesuai dengan maksud penciptanya.

Contoh macapat dalam Tembang (2010 Seabad Nuhammadiyah) dengan jenis sinom:

//Manah kula sampun ridla/Alloh sesembahan jati/Islam Minangka agama/Muhammad Rosul lan Nabi/Mugi Alloh maringi/Mring pra muslim sagung ilmu/Lan mugi paring paham/Dhateng manah kula sami/Mugi Alloh angobulken ing pangandhang//.

 

//Sarekat Muhammadiyah/Bebadhan dhasar agami/Sumebar ing nuswantara/Kitha kampong dhusun giri/Milik kawula dasih/Tambah tahun tambah subur/Ajak-ajak ibadah/Sembah sujud mring Ilahi/Sesasntinya amar ma’ruf nahi mungkar//.

 

  1. Dakwah Kultural melalui Seni Budaya

Acara pergelaran macapat di narasumberi oleh Dr. HM. Damami, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Herman Ahmad Ma’ruf yang mana keduany menilik macapat dalam persepektif dakwah kultural

Macapat yang masih popular dilingkungan masyarakat DIY sebagai karya seni tembang menurut Dr. H Mohammad Damami sangat memungkinkan kalau untuk dipakai sebagai salah satu sarana dakwah Islamiyah. Apalagi karya ini berupa puisi. Sastra puisi sangat memungkinan memuat ajaran agama yang tiak jarang mengandung muatan yang sifatnya sangat interpretative. Orang bias bebas berolah seni dan berolah tafsir dalam bingkai perpuisian ini. Sedang Herman Ahmad Ma’ruf, menyatakan bahwa macapat memiliki kekuatan dan kekhasan untuk memberi nasehat pada setiap insan. Pada zaman Susuhunan Paku Buwono X dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, seni tembang menjadi salah satu media menyampaikan ajaran keutamaan. Bahkan pada era kekuasaan kedua Raja tersebut, memberikan dampar kencono bagi sarekat Islam dalam hal ini ngulama sebagai pimpinan agama Islam sejajar dengan sang Nata tersebut. Menurut Herman, dengan memahami tembang macapat, melalui era PB X dan HB IX ditegaskan bahwa Wong Jawa ora Islam dudu Wong Jawa.

Jika macapat akan dipergunakan sebagai salah satu media Dakwah Kultural oleh Muhammadiyah rupanya bukan sesuatu yang aneh. Hal tersebut dikarenakan Muhammadiyah dala Dakwah Kultural sudah memiliki konsep berisi pendekatan dan strategi. Dakwah Kultural sudah digagas dalam Sidang Tanwir di Bali (2002), dimatangkan dalam Sidang Tanwir di Makassar (2003), dan disahkan sebagai salah satu keputusan dalam Muktamar Muhammadiyah di Malang (2005). Dakwah Kultural Muhammadiyah rupanya memang sangat komprehensif.

Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada mulanya dalam gerakan dakwahnya berpangkal pada dakwah kultural dalam konteks ‘budaya lokal’ seperti mendirikan tempat-tempat pendidikan (pengajian dan madrasah), penyantnan anak-anak yatim piatu, pendirian rumah sakit PKO, pemberdayaan kaum wanita dan lain sebagainya dalam rangka ‘penegakan tauhid’.

Zaman sekarang Dakwah Kultural Muhammadiyah setidaknya memiliki lima (5) sasaran, yang meliputi:

  • konteksnya dengan budaya local,
  • konteksnya dengan budaya global,
  • konteksnya dengan apresiasi seni,
  • konteksnya dengan peranan multimedia, dan
  • konteksnya dengan gerakan jamaah dan dakwah jamaah (PPM, 2005).

Dengan demikian secara keseluruhan dakwah Muhammadiyah dalam ‘dakwah kultural’ bukan ‘dakwah struktural’ yang bernuana perjuangan politik praktis. Jika pada awal mula sampai menjelang akhir abad ke-20 nuansa gerakan dakwah Muhammadiyah cenderung berorientasi pada ukuran-ukuran normatif sebagaimana dalam ajara agama Islam yang tercermin dalam pembelajaran agama Islam di pesantren-pesantren pada umumnya. Berlawanan dengan zaman masa kini dakwah Muhammadiyah dihadapkan pda realitas ‘makin menyempitnya ruang bumi’. Semua hal menjadi semakin cepat tahu, saling mudah terpengaruh, dan makin kompleks.

Pada posisi demikian menurut Dr. H. Mohammad Damami sudah selayaknya, orientasi dakwah pun harus tergugah menghadapi ‘tangangan untuk melakukan penandingan’. Sehingga ungkapan “fa-‘stabiqu-‘l-khairat” artinya ‘maka berlomba-lombalah melakukan kebajikan’ (QS Al-Baqarah, 2:148) menjadi sangat berarti. Strategi ‘melawan’ sudah sepatutnya diimbangi secara memadai dengan strategi ‘menandingi’ atau ‘membuat tawaran yang lebih menarik’.Hal itu merupakan tantangan yang terdapat dalam lima bidang sasaran dalam konsep dakwah kultural Muhammadiyah. Dalam konteks konsep dakwah kultural, seni tembang macapat dapat menyentuh kelima sasaran dakwah cultural dimaksud: budaya local, budaya global, multimedia, seni, gerakan jamaah dan dakwah jamaah. Usaha semacam itu perlu digalakkan, termasuk dalam dunia pendididkan.

Pergelaran macapat menjadi start kegiatan sangat tepat mengingat Muhammadiyah memiliki konsep Dakwah Kultural. Lebih lanjut Nur mengatakan, perlu diketahui dalam persaingan dakwah agama, mulai tampak agama selain Islam memanfaatkan kearaifan lokal seperti seni tembang macapat ini. Macapat sebagai seni berkaitan dengan sastra, seni lagu (nada suara) bahkan sangat musikalitas (seni musik) dan seni pertunjukan. Mengingat macapat memiliki watak sendiri-sendiri, hampir ada 15 jenis watak tembang Jawa. Seperti yang ditembangkan pak M. Suradji, dengan sinom, artinya tunas daun muda, memiliki sifat lagu gembira, berwibawa.

Dalam suasana budaya yang progresif yang terjadi dewasa ini. Macapat menjadi pilihan pertama sangat tepat, karena ada usaha melestarikan kearifan lokal. Dengan mengangkat macapat, artinya Muhammadiyah ada kepedulian, nantinya akan memahami berbagai jenis tembang yang lain seperti: maskumambang, dhandanggula, kinanti, mijil, pangkul, durma, asmarandana, megatruh, pucung, gambuh, balabak, wirangreng, jurudemung, girisa. Ini kan bagus. Bukan saja sekadar romantisme melainkan untuk menfungsikan secara kreatif terhadap kekayaan kearifan lokal bangsa ini. Pemanfaat seni tembang macapat semakin mendapat tempat di kalangan umat Islam. Melalui pergelaran macapat dan sarasehan seni bada LSBO PWM DIY secercah harapan pun menerawang indah. Dakwah Kutural Muhammadiyah akan tumbuh dan berkembang. Pergelaran macapat pun ada manfaat untuk memperdalam penghayatan kemuhammadiyahan dan keislaman sekaligus menghibur dikala hiruk pikuk kehidupan mengharu biru. (GI-AB-15).

  1. Penutup

Macapat merupakan suatu bentuk  ragam seni budaya daerah  yang perlu dikembangkan baik dalam bentuk bahasa nasional maupun internasional agar para pendengar  bisa paham terhadap apa yang dikomunikasikan. Apresiasi seni budaya macapat dalam dakwah kultural  ini sangatlah bagus karena zaman sekarang banyak anak-anak muda yang menganggap bahwasannya seni tersebut sudah jadul ditelinga para pendengar Oleh karena itu perlu di lestarikan dan dikembangkan lagi  dengan dialuni alat-alat musik ataupun dikomunikasikan dalam bahasa nasional maupun bahasa internasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: