Landasan dan Asas Pendidikan


a. Aliran-Aliran Klasik dalam Pendidikan

Pemikiran tentang pendidikan dimulai pada zaman Yunani Kuno yang berkembang pesat di Eropa dan Amerika Serikat. Pemikiran pendidikan dalam lingkup dunia, termasuk Indonesia sendiri melalui bangsa penjajah yang belajar ke Eropa, Amerika dan negara-negara lain. Selain itu, pemikiran pendidikan juga berasal dari buku-buku yang mereka bawa ke negara jajahan.

Aliran-aliran Klasik meliputi:

a)      Aliran Empirisme

b)      Aliran Nativisme

c)      Aliran Naturalisme

d)     Aliran Konvergensi

Aliran-aliran tersebut merupakan benang-benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan di masa lalu, saat ini, dan masa depan dari hal-hal yang bersifat pesimis sampai optimis.

v Aliran Empirisme

Aliran yang bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung pada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan. Perintis pandangan ini adalah seorang filosof Inggris bernama John Locke (1704-1932).

Pengembangan teori “tabula rasa” yaitu anak lahir di dunia bagaikan kertas putih. Pengalaman empirik diperoleh dari lingkungan yang akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak (biasa disebut environmentalisme), bahwa seorang pendidik memegang peranan sangat penting karena pendidik dapat menyediakan lingkungan pada anak dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman yang sesuai dengan pendidikan atau tujuan pendidikan.

Aliran ini dipandang sebelah mata atau berat sebelah, karena hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Kemampuan anak sejak lahir tidak menentukan, menurut kenyataan anak yang berhasil karena berbakat, meskipun lingkungan sekitarnya tidak mendukung. Pada pandangan scientific psycology, B.F Skinner ataupun pandangan behavioral (behaviorisme) yaitu perilaku manusia yang tampak dari luar sebagai sasaran kajian atau hasil belajar semata. Pandangan ini masih bervariasi untuk menentukan faktor utama dalam proses belajar (Milhollan dan Forisha, 1972: 31-79; Ivey, et.al, 1987: 231-263) sebagai berikut:

a)      Pandangan menekankan pada stimulus (rangsangan) “Classical Conditioning” atau “respondent learning” oleh Ivan Pavlor (1849-1936) di Rusia dan Jon B.Watson (1878-1958) di Amerika Serikat.

b)      Pandangan yang menekankan peranan dari dampak ataupun kebalikan dari perilaku seperti dalam “operant conditioning” atau “instrumental learning” dari Edward L. Thorndike (1874-1949) dan Burrhus F. Skinner (1904- ) di Amerika Serikat.

c)      Pandangan yang menekankan peranan pengamatan dan imitasi seperti dalam “observational learning” yang dipelopori oleh N.E. Miller dan J.Dollard dengan “social learning and imitation” dan dikembangkan lebih lanjut oleh A.Bandura dengan “participant modelling” maupun dengan “self-efficacy”.

Butir aliran konvergensi behavioral tidak sepenuhnya “tabula rasa” dari John Locke mulai diperhatikan faktor-faktor internal dari manusia.

v Aliran Nativisme

Aliran ini bertolak dari Leibnitzian Tradition, atau kemampuan dari diri anak. Sehingga faktor lingkungan tidak berpengaruh dalam faktor pengembangan pendidikan anak. Hasil pendidikan tergantung pembawaan, Schopenhouer (filsuf Jerman 1788-1860) berpendapat bahwa bayi lahir dalam pembawaan baik dan buruk, maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak itu sendiri. Nativisme berasal dari “nati” artinya terlahir, dan bagi nativisme lingkungan sekitar tidak ada artinya sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Konvergensi menjelaskan dua faktor:

a)      Pembawaan (hereditas)

b)      Lingkungan dalam perkembangan anak

Maka banyak didapati dalam aliran Nativisme itu anak mirip dengan orang tuanya baik secara fisik dan non fisik (sifat). Di dalam diri individu terdapat “inti” (G. Leibnitz: Monad) yang mendorong manusia yaitu kemauan aktif sendiri, dan manusia adalah makhluk yang mempunyai kemauan bebas. Dalam pandangan humanistic psycology dari Carl R. Rogers ataupun phenomenology atau humanistik lainnya. Apa yang dialami atau pengalaman pelajar ditentukan “internal frame of reference” yang dimilikinya. Terdapat beberapa variasi pendekatan yaitu:

a)      Pendekatan aktualisasi atau non direktif (client centered) dari Carl R. Rogers dan Abraham Maslow.

b)      Pendekatan “Personal Constructs” dari George A. Kelly yang menekankan memahami hubungan “transaksional” manusia dan lingkungan awalnya memahami perilakunya.

c)      Pendekatan “Gestalt” baik yang klasik (Max Wertheimer dan Wolgang Kphler) maupun pengembangan selanjutnya (K. Lewin dan F. Perls)

d)     Pendekatan “Search for Meaning” dengan aplikasi “Logotherapy” dari Viktor Franki yang mengungkapkan pentingnya semangat (human spirit) sebagai tantangan masalah.

Pendekatan-pendekatan tersebut di atas tetap menekankan pentingnya “inti” privasi atau jati diri manusia.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: