Nilai religious Lagu Lir-ilir versi kiai kanjeng ( cak noon)


Penciptaan manusia merupakan salah satu rahasia alloh swt, sebab manusia mempunyai kelebihan di banding dengan makhluk lain. Manusia mempunyai kedudukan khusus yaitu karena manusia berpengetahuan. Dengan pengetahuan manusia bisa mengembangkan kebudayaan.adapun pengetahuan manusia dapat diperoleh dari kemampuan indrawi, naluri, imajinasi, hati nurani, dan akal. Kebudayaan di kembangkan dalam dunia manusia,berkaitan pula dengan kenyataan penciptaan oleh alloh tidaklah sekali jadi. Ada proses penciptaan, penyempurnaan, dengan cara memberikan sunnatulloh dan juga di berikan hidayah.dengan demikian makhluk terbuka kemungkinan-kemungkinan untuk memenuhi tugas dari kejadianya.

Kesenian menurut islam bagian penting dari kebudayaan, tentulah bermakna ibadah. Seharusnya yang di kembangkan adalah bentuk-bentuk kesenian yang mampu mengantarkan manusia meningkat derjat spiritualitas dan martabat manusia secara ruhaniah. Bukanya kesenian yang merendahkan martabat manusia ke tingkat hewani, atau bahkan materi. Rosululloh saw pernah bersabda “ sesungguhnya alloh itu indah dan mencintai keindahan”. Tentu saja kalau manusia menafsirkannya berhenti pada konsep jasmaniah akan mudah terlepas dari hati nurani, akan terlepas dari nilai-nilai ruhaniah, dan juga akan terlepas dari kebenaran alloh swt. Al-quran itu sendiri terbukti bahwa alloh menurunkan ayat-ayatnya dengan penuh keindahan. Bukankah  itu merupakan maha karya seni keindahan dari sang pencipta?”.

Begitu juga dengan lagu lir-ilir yang sangat memukau ketika saya mendengarkan langsung pada tanggal 17 april pada acara kajian jamaah maiyah yang berlangsung dari jam 21.00 hingga menjelang subuh. Ternyata Tembang yang sering dinyanyikan anak-anak jawa ini konon di ciptakan oleh sunan kali jaga, meskipun ada juga yang mengatakan bahwa ini adalah ciptaan sunan ampel. Begitu indah dan dalamnya makna syair dari tembang ini sehingga professor harpa carrol Mclaughlin dari universitas Arizona pernah mengubah lagu ini untuk repertoar harpa dan dibawakan pada pergelaran jazz “ heart to heart” yang di ikuti antara lain oleh pemain harpa maya hasan (Indonesia), hiroko saito (jepang), kellie marie cousinaeu (amerika serikat).

Adapun lagunya adalah sebagai berikut ini:

Lir ilir, Lir ilir                                              bangun, bangunlah  (dari tidur)

Tandure wes sumilir,                               pohonsudah mulai bersemi

Tak ijo royo-royo                                      demikian menghijau

Tak senggo temanten anyar                   bagaikan gairah penganten baru

Cah angon, cah angon                             anak pengembala, anak pengembala

Penekno blimbing kuwi                            panjatlah pohon blimbing itu

Lunyu-lunyu yo penekno                          walau susah tetap panjatlah

Kanggo mbasuh dodotiro                         berguna untuk cucci pakaianmu

Dodotiro, dodotiro,                                  pakaian-pakaian yang buruk

Kumitir bedhah ing pinggir                      disisihkan dan jahitlah

Dondomono jlumatono                            benahilah untuk

Kanggo sebo mengko sore                       menghadap nanti sore

Mumpung padhang                                   selagi terang

Rembulane                                                  mumpung terang rembulane

Mumpung jembar kalangane                   mumpung banyak waktu luang

Yo surako….surak hiyo…….                     Mari bersorak,,,,sorak hayo,,,,,

Tembang lir-ilir yang banyak di anggap lagu dolanan anak-anak ini sebetulnya adalah bukti kepandaian para walisongo dalam mengajarkan islam kepada masyarakat jawa  melalui cara yang sangat menyenagkan dan tak terasa menggurui. Kata-kata dalam tembang itu seolah-olah deretan kata-kata biasa saja yang menggambarkan keriangan dunia anak-anak.  Namun jika dibaca sungguh-sungguh akan banyak makna agami yang muncul. Di mulai dari kata “bangunlah, bangunlah” dari keadaan tidur yang sering di lihat para ulama sebagai keadaan mati sementara, akan timbul pertanyaan? Ruh-kah? Kesadaran? Atau pikiran? Tetapi maksud kata “lir,ilir” yang juga mengandung gerakan angin semilir ini juga bisa ditafsirkan sebagi imbauan lembut dan ajakan untuk berzikir. Zikir yang akan menghidupkan apa yang tadinya melenakan, Zikir utuk kembali siaga.

Baris “tandure wis sumilir tak ijo royo-royo, tak senggo temanten anyar” bisa diartikan bahwa jika sudah berzikir maka akan menghasilakan kehidupan yang indah dan nyaman seperti pohon hijau yang rindang, yang banyak bermanfaat untuk berteduh bagi banyak makhluh alloh yang ada di muka bumi. Setelah itu meski kalimat yang sesudahnya mengaitkan kesejukan dan rindang pohon dengan kesejukan pengantin baru, ada juga tafsir yang pernah kudengar dulu bahwa yang dimaksudkan sunan kali jaga saat menuliskan kata-kata” pengantin baru” ini adalah raja-raja  dijawa yang baru memeluk agama islam. Setelah sebelumnya leluhur mereka biasanya memeluk agama hindhu atau budha. Pemahaman arti seperti ini menurutku masih bisa diterima akal karena dengan berpindahnya keyakinan seorang raja menjadi pemeluk islam, biasanya juga akan di ikuti dengan perpindahan keyakinan rakyatnya secara besar-besaran sehingga bisa terlihat seperti pohon hijau yang rimbun, ijo royo-royo. Yang lebih menarik adalah baris selanjutnya yang dimulai dengan “ cah angon-cah angon” mengapa harus seorang bocah pengembala yang diseur sunan kali jaga dalam lagu itu? Mengapa bukan pak kiai, pak kiai….”misalnya? aku merasa inilah salah satu kecerdasan  sunan kali jaga yang lain dalam memahami dunia kanak-kanak sekaligus konse figure imamat. Pengembala adalah seorang yang selalu mengarahkan hewan-hewan gembalanya agar tidak tersesat, layaknya seorang imam yang berkewajiban untuk selalu membimbing makmumnya di jalan yang benar, betapapun sulitnya jalan itu.

Jika kata cah angon” itu dilihat sebagai seruan lembut kepada imam, bisa saja dalam bentuk para kiai, raja-raja,  atau kaum terpelajar yang merasa punya kewajiban untuk terus mengarahkan rakyat sebagi makmumnya. Kalimat “ penekno blimbing kuwi” menjadi sangat kuat maknanya karena belimbing adalah buah berwarna hijau dengan lima sisi buah yang bisa dianggap sebagi symbol dari lima rukun islam. Sedangkan “ penekno”  merupakan ajakan kepada raja-raja jawa untuk mengimbau masyarakat agar mengikuti jejak mereka untuk emmeluk dan menjalankan syariat islam.

Kalimat selanjutnya “ lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodot iro” memiliki arti bahwa meskipun cukup sulit untuk meemperoleh “ blimbing kuwi” sebagi lima rukun islam, karena jika seseorang sudah berpegang pada rukun islam, maka akan mudah baginya untuk membersihkan hati, pikiran, ketakwaan, sebagi bagian dari “pakaian” yang di gunakan sehari-hari. Sebab jika tidak di bersihkan secara rutin dan sungguh-sungguh, pakaian itu bisa cepat lusuh dan terlibat buruk dimata orang lain. Karena itu, jika pakaian taqwa dan keimanan sudah mulai terlihat lusuh, baris-baris kalimat “ dodotiro, dodotiro, kumitir bedah ing pinggir” yang berarti pakaian –pakaian yang sudah lusush harus segera dipinggirkan, bukan dengan maksud untuk dibuang, melainkan untuk dijahit kembali, diperbaiki agar secepatnya terlihat indah kembali. Adapun  baris  yang menyatakan “ dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore” atau “ benahilah pakaianmu untuk menghadap nanti sore” sangat jelas maksudnya sebagai  penanda waktu menyangkut kematian.  Dengan demikian, seorang muslim sudah selayaknya harus membenahi pakaian iman dan takwanya sebelum kematiian datang” di waktu ujung umur seseorang yang diperkenankan alloh waktu sore”atau  ujung umur seseorang yang diperkenankan alloh swt.

Tembang itu di tutup dengan imbauan yang sangat menyejukan hati bahwa segalanya harus segera dilakukan” mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane” yang bermakna “  mumpung terang rembulannya, mumpung banyak waktu luang”. Karena jika sinar rembulan redup, alam semesta gelap, dan tak ada lagi waktu untuk berbenah, sia-sia saja seluruh keinginan untuk memperbaiki pakaian takwa jika waktunya sudah tidak memungkinka.

Seluruh lagu akhirnya ditutup dengan kata-kata riang gembira” yo surak surak hiyo” yang berarti  sambutlah seruan ini dengan sorak sorai dan keceriaan untuk menjalankan syariat islam dalam kehidupan sehari-hari. Jika seluruh kalimat dalam tembang ilir-ilir diteliti dengan cara seperti ini, sulit untuk tidak mengatakan bahwa  sunan kali jaga, atau siapapun dari wali songo yang menciptakan lagu ini hanya membuat melodi indah ini hanya untuk anak-aank. Karena sesungguhnya ada pesan lebih serius yang ditempatkan dalam kata-kata riang itu.

Oleh karena itu perlu di jernihkan kembali konsep kebudayaan dan kesenian dalam islam. Sebab di masa sekarang ini, kesenian tidak hanya dinikmati di waktu senggang ataupun sesuatu yang di perlukan untuk menghiasi rumah-rumah. Melainkan ikut berperan dalam membentuk kebudayaan dan peradaban islam itu sendiri. Kesenian itu sendiri di kembangkan manusia sebagai perbuatan baik yang tidak merusak alam dan juga memperindah kehidupan. Tujuan kesenian pada hakekatnya tidak lepas dari penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi yang salah satunnya menanggung amanat untuk memelihara kehidupan dunia demi makna yang lebih tinggi yaitu ibadah. Berkesenian yang benar adalah memperindah dan memelihara alam demi pemahamannya terhadap keberadaan alloh swt. Bukannya merusak alam yang akan merugikan manusia itu sendiri. Kesenian yang hanya bersifat jasmaniah dan hanya berorientasi sebagai makhluk duniawi semata akan merusak martabat diri dan alam dan hal ini jelas bukan kesenian yang bersifat islami.

Pukta in universitas terbaik

Tags:

One Response to “Nilai religious Lagu Lir-ilir versi kiai kanjeng ( cak noon)”

  1. todays date Says:

    i love your blog, i have it in my rss reader and always like new things coming up from it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: