Pendidikan Islam Sebagai Pemersatu Bangsa


Pada arah tantangan global saat ini, manusia dihadapakan oleh teknologi perkembangan yang serba canggih, manusia tidak lagi menggunakan alat yang manual akan tetapi sudah menggunakan beberapa alat pemanfaat teknologi yang begitu luar biasa. Bangsa Indonesia yang majemuk dan memiliki beberapa suku, agama, ras dan budaya telah mempunyai nilai karakteristik dan sejarah yang panjang dalam mempersatukan bangsa. Penjajahan di Indonesia merupakan salah satu usaha penjajah dalam memecah belah rasa persatuan dan kesatuan bangsa

Keanekaragaman bangsa menjadi unsur konkrit dalam membangun kekuatan bangsa dalam melawan penjajah dan kolonial barat, akan tetapi yang menjadi masalah saat ini adalah kurangnya binaan pendidikan dalam mempersatukan bangsa Indonesia melalui unsur pendidikan dalam membangkitkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang mulai menghilang dari diri setiap warga negara Indonesia. Jika hal ini sudah berlarut-larut dan mendarah daging maka akan timbul perpecahan dan kerusuhan yang terjadi antara ras dan suku bangsa, contoh terkait adalah  persoalan yang terjadi pada bulan-bulan lalu terkait dengan ras dan suku budaya, salah satunya adalah peristiwa tragedy lampung vs bali.

Timbulnya beberapa pergolakan di daerah seperti tawuran antar ras, etnis dan suku budaya, penyerangan fasilitas-fasilitas ibadah seperti masjid dan gereja disebabkan oleh kurangnya kerukunan, perbedaan pandangan agama dan kesenjangan sosial. Timbulnya perpecahan ini terjadi akibat lunturnya nilai-nilai toleransi untuk tetap saling menghargai perbedaan.

Nilai-nilai toleransi mulai terkikis sedikit demi sedikit yang disebabkan oleh masuknya budaya asing di Indonesia sehingga menggeser nilai-nilai budaya ras dan suku bangsa Indonesia. Pengaruh globalisasi bukan hanya mempengaruhi faktor ekonomi saja akan tetapi akan menjadi salah satu ancaman terbesar bagi pendidikan dan budaya bangsa. Masyarakat Indonesia telah salah menanggapi pengaruh globalisasi dengan kebebasan untuk menutut pemenuhan  hak tanpa memperdulikan hak orang lain. Bertindak sesuka hati, merasa diri dan kelompoknya benar dan menganggap orang lain selain kelompoknya salah sehingga melakukan penyimpangan yang signifikan apabila tidak mencari penyelesaian terkait hal ini.

Meskipun sudah diadakan penyelesain dengan cara mengadakan dialog terbuka antar kedua belah pihak yang bermasalah, akan tetapi penyelesainnya hanya meredakan pertikaian beberapa saat saja yang kemudian akan terjadi konflik kembali dengan faktor pengaruh yang sama dengan wilayah yang berbeda atau wilayah yang lebih luas. Permasalahan-permasalahan kerap terjadi pada wilayah daerah yang bercampur antara ras, suku, budaya dan agama yang berbeda dalam satu daerah. Pergeseran nilai-nilai moral dan agama dalam berkehidupan bangsa dan negara semakin lama semakin tergeser oleh perubahan budaya dan masuknya pengaruh budaya asing terhadap bangsa Indonesia. Masalah ini akan dapat diatasi apabila masyarakat Indonesia kembali pada budaya dan pendidikan islam yang telah ditanamkan oleh para pendahulu kita dalam merumuskan lambang negara Indonesia, terkait dengan garuda pancasila yaitu pada sila ketiga yang berbunyi persatuan Indonesia bagi seluruh rakyat Indonesia. Nilai-nilai budaya bangsa Indonesia yang sudah ditanamkan dan diajarkan melalui pendidikan inilah yang  akan menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan dengan menjujung tinggi nilai agama dan budi pekerti moral bangsa hingga dapat mengatasi masalah konflik terkait didaerah daerah yang memiliki budaya, ras, suku, agama yang beragam.

Arah satuan pendidikan pada dasarnya sudah mengembangkan dan melaksanakan nilai- nilai pembentukan karakter melalui program operasional satuan pendidikan masing-masing yang bersumber dari agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional yaitu

  1. Jujur
  2. Toleransi
  3. Disiplin
  4. Kerja keras
  5. Kreatif
  6. Mandiri
  7. Demokratis
  8. Rasa Ingin Tahu
  9. Semangat Kebangsaan

10. Cinta Tanah Air

11. Menghargai Prestasi

12. Bersahabat/Komunikatif

13. Cinta Damai

14. Gemar Membaca

15. Peduli Lingkungan

16. Peduli Sosial

17. Tanggung Jawab

18. Religius (Pusat Kurikulum. Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa : Pedoman Sekolah. 2009 : 9-10).

Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.

Pendidikan ini dinyatakan dalam pasal 31 UUD 1945, dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Tujuan Pendidikan Nasional itu adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU SISDIKNAS, 2003: 12

Peran guru juga ikut serta dalam upaya pembentukan karakter peserta didik dan sebagai pemersatu bangsa, kalau kita melihat sejarah tentang pendidikan di Indonesia, berdirinya Budi Utomo pada tahun 1908, seorang guru telah menjadi garda depan bagi organisasi budi utomo dalam menyadarkan rakyat Indonesia yang tertidur pulas karena penindasan penjajah.

Demikian juga setelah kemerdekaan, tepatnya tanggal 25 Nopember 1945, para guru memperjuangkan berdirinya sebuah wadah pemersatu bangsa yaitu Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sebagai organisasi perjuangan. Peran para guru yang ditunjukkan semasa kemerdekaan hingga sekarang adalah semangat perjuangan yang perlu terus dipertahankan seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk menghadapi persoalan pelik bangsa sekarang ini, tak berlebihan jika harapan masa depan generasi muda bangsa Indonesia dipertaruhkan kepada mereka yang berprofesi sebagai guru. Guru yang profesional dan memiliki loyalitas terhadap tugasnya menjadi jaminan keberhasilan pembangunan pendidikan kita.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang efektif serta elemen penting pembentuk karakter peserta didik. Di lingkungan sekolah, guru memiliki peran sentral dalam implementasi pendidikan karakter, karena posisi guru menjadi orang yang secara langsung dapat berinteraksi dengan peserta didik. Pendidikan karakter dapat diimplementasikan dalam setiap aktifitas, baik dalam kegiatan pembelajaran di kelas, pengembangan diri, maupun dalam kegiatan keseharian di rumah dan di masyarakat.

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: